Rabu, 27 April 2016

Rehabilitasi Medik (Fisioterapi)



Fisioterapi merupakan upaya pelayanan kesehatan profesional dalam mengatasi permasalahan gangguan kapasitas fisik (seperti nyeri, kelemahan otot, kekakuan sendi ) dan kemampuan fungsional dengan menggunakan sumber-sumber fisis seperti listrik (Elektro therapy), sinar ( Aktino therapy ), Air ( Hidrotherapy), Manual ( Manual Therapy), dan Therapy Latihan  (Exercise Therapy ). RSU Bunda Margonda memberikan pelayanan fisioterapi untuk anda dan keluarga dalam membantu proses penyembuhan penyakit yang diderita, seperti kondisi pasca bedah/operasi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, nyeri otot dan sendi, dll. Didukung oleh tenaga-tenaga kesehatan professional serta teknologi medis yang modern.
Pelayanan Fisioterapi dititikberatkan pada tindakan terapi fisik dan terapi exercise seperti penguatan otot,pelenturan otot dan koordinasi tubuh
Banyak penyakit yang penyembuhannya dapat dibantu dengan tindakan fisioterapi diantarnya adalah :
  • Pasca Tindakan Bedah/Operasi
Program rehabilitasi pada pasien pasca bedah  bertujuan untuk mencegah kelemahan otot dan kekakuan sendi,mencegah kelemahan umum,mencegah terjadinya infeksi pada paru karena tirah baring lama
  • Masalah Saluran Pernafasan dan Otot Pernafasan
Pasa pasien dengan tirah baring lama disamping dapat timbul infeksi paru akan terjadi pula kelemahan otot pernafasan sehingga fungsi pernafasan terganggu.Dalam program rehabilitasi pasien bertujuan untuk mengeluarkan lendir yang berlebih  dari saluran nafas atau memudahkan pasien dalam mengeluarkan lender dan memberikan latihan untuk memperbaiki fungsi otot pernafasan
  • Gangguan Pertumbuhan & Perkembangan Anak
Banyak penyebab gangguan pada saat ibu hamil,masa kehamilan hingga perkembangan bayi sendiri setelah lahir.Program rehabilitasi sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya keterlambatan duduk/berdiri,keterlambatan jalan dan lumpuh pada ank.
  • Infeksi dan peradangan
Program rahabilitasi medik membantu mencegah terjadinya peradangan sinus sekitar hidung (sinusitis), mencegah peradangan daerah telinga tengah(tubercatarach) dan mencegah peradangan daerah sekitar rahim (adnexitis)
  • Gangguan pertumbuhan pada tulang & sendi
Kelainan bentuk sendi lutut (Varus,Valgus),kelainan pada sendi kaki (CTEV,Flat foot)dan kelainan tulang belakang (scoliosis) dapat dilakukan program rehabilitasi dengan cara latihan fisik dan memakai orthose
  • Nyeri Otot dan nyeri sendi
Berbagai ungkapan sering kita dengar,seperti nyeri,ngilu,linu,encok maupun pagal-pegal.hal ini disebabkan adanya cedera pada otot,peradangan sendi dan rematik.Program rehabilitasi medik mampu mengatasinya
  • Kaku Otot & kaku sendi
Program rehabilitasi medik ini mampu mencegah terjadinya kelainan pada otak pada masa pertumbuhan anak,mencegah gangguan pada pembuluh darah otak dan mencegah penyakit degenerative/pengapuran
  • Kelemahan & Kelumpuhan otot
Kelumpuhan lengan pada bayi baru lahir,kelumpuhan otot wajah,lumpuh separuh badanmaupun kelumpuhan pada lengan atau tungkai,hal ini dapat dicegah melalui program rehabilitasi medik
  • Rehabilitasi Preventif
Dalam hal ini fisioterapi lebih mengutamakan latihan fisik baik berupa latihan penguatan otot,pelenturan otot dan sendi,termasuk juga latihan aerobic endurans jantung-paru

Sumber: http://bunda.co.id/

Senin, 25 April 2016

Macam-Macam Fisioterapi



PEDIATRI

Banyak permasalahan-permasalahan pada anak yang bisa ditangani oleh Fisioterapi dengan tujuan meningkatkan kemampuan anak dalam keterbatasan fungsi dan gerak tubuh seperti Cerebral Palsy (CP), Down Syndrom, Autis, dan masalah-masalah dengan kebutuhan khusus lainnya.
Disini seorang Fisioterapis berfungsi sebagai pelatih, menyiapkan orangtua dan penderita dengan strategi dan melatihnya dimana dapat membantu maningkatkan penampilan di rumah, sekolah, dan masyarakat.

GERIATRI

Bertambahnya usia maka aktifitas gerak individu seperti keterampilan daya tahan, kekuatan semakin menurun sehingga menghambat aktifitasnya. Masalah-masalah yang timbul seperti Stroke, berkurangnya daya ingat, dan lain-lain.
Disini Fisioterapi membantu agar kualitas hidup bisa dipertahankan untuk tetap aktif sesuai dengan pera dan tanggung jawabnya.

MUSKULOSKELETAL 

Inilah yang sering terjadi pada masyarakat umumnya. Terutama akibat dari peningkatan aktivitas. Seperti ketegangan otot atau Spasme, Sprain, nyeri pada persendian dan lain-lain. Biasanya ini diakibatkan oleh posisi yang salah saat beraktivitas. Misalnya posisi duduk yang salah saat sedang bekerja, posisi duduk yang terlalu lama, posisi saat mengangkat beban yang salah. Itu semua menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan tidak nyaman. Fraktur atau patah tulang juga bisa saja terjadi akibat kecelakaan kerja atau saat sedang melakukan aktivitas lain seperti berolahraga dan bermain, dan sebaiknya segera ditangani dengan baik dan cepat.
Disinilah fungsi seorang Fisioterapis dibutuhkan, yaitu untuk mengembalikan fungsi otot, sendi dan tulang agar kembali normal.

KARDIO-PULMONAL 

Peran Fisioterapi pada kondisi  jantung dan paru-paru difokuskan pada aspek pemulihan fisik, khususnya meminimalkan kondisi akibat bed rest, peningkatan fungsi cardio-pulmonal dan perbaikan fungsi musculuskeletal. Dimulai dengan assesment, breathing exercise, assisted atau aktiv exercise untuk pasien tertentu. Mengawasi proses ambulasi atau perpindahan tempat, menaiki tangga dan aktivitas lainnya. Memprogramkan home exercise, edukasi pada pasien dan keluarga, serta modifikasi aktivitas.
Selanjutnya Fisioterapis tetap melaporkan kemajuan yang terkait dengan kondisi fisik pasien serta tetap berkonsultasi dengan dokter.

NEUROLOGI 

Fisioterapi neurologi adalah membantu orang-orang yang mengalami kelianan atau penyakit pada neurologist (saraf), seperti penyakit Alzheimer, Cerebral Palsy, Cedera/Gegar Otak, Multiple Sclerosis, Parkinson, Cedera Saraf Tulang Belakang dan Stroke.
Umumnya, kelainan yang terkait dengan kondisi neurologi berupa gangguan yang terjadi pada penglihatan, keseimbangan, aktivitas dan gerakan dan berkurangnya kebebasan fungsional tubuh.

OLAHRAGA 

Fisioterapi Olahraga bertugas menjaga pemain agar selalu dalam kondisi bagus sebelum pertandingan. Selain itu juga membuat program rehabilitasi untuk menangani pemain yang  cedera seperti Spasme dan lepasnya persendian akibat posisi yang salah ketika jatuh. Fisioterapi Olahraga bertanggungjawab dengan kebugaran pemain agar pola hidup mereka tidak asal-asalan. Fisioterapis juga menjaga nutrisi para pemain dan berhubungan dengan pelatih. Caranya dengan memberitahu dia mengenai kondisi pemain sebelum menjalani pertandingan.

Sumber: http://kelompok2ft.blogspot.co.id/

Minggu, 24 April 2016

Peran Fisioterapi Dalam Olahraga

download (1)cc

Manajemen patologi untuk injury yang dialami atlet dibagi menjadi 3 bagian :
  • Damage control, facilitation of repair, dan reconditioning of the recovered lesion
  • Prinsip dasar manajemen tiap fase harus mempertimbangkan keparahan injury, struktur terlibat, riwayat injury, dan pembedahan (jika ada)
Manajemen akut fisioterapi olahraga adalah PRICER untuk menajemen akut soft tissue injury. PRICER terdiri dari:
  1. Protection
Secara umum, proteksi merupakan tindakan2 yang membatasi aktivitas atlet untuk mencegah lesi menjadi lebih parah dan menempatkan bagian yang terluka tersebut pada posisi yang aman dan nyaman
  1. Rest
Atlet dinstruksikan untuk beristirahat. pada early stage, atlet diharuskan beristirahat untuk menurunkan TD dan mencegah hemorrage menjadi lebih parah

     3. Ice

Es berfungsi untuk menurunkan nyeri, mengurangi pendarahan dan bengkak, serta meminimalisir secondary hypoxic injury. waktu maksimal penggunaan es selama 20 menit.
  1. Compression
Penggunaan compression bandage terhadap injury dapat mengontrol swelling dan meminimalkan respon inflamasi. Kompresi dapat mengembalikan sirkulasi normal lebih cepat dan drainase limfatik di area yang terluka
  1. Elevation
Elevasi berfungsi untuk mengurangi tekanan intravaskular lokal, sehingga mengurangi pendarahan dari pembuluh darah yang rusak. Selain itu, elevasi juga memfasilitasi drainase cairan interstisial menuju sirkulasi sentral
  1. Referral
Penempatan faktor ini pada akhir PRICER menghimbau semua prictitioners (pelatih, dokter, dll) untuk menyadari keterbatasan mereka dalam pengelolaan cedera olahraga akut. rujukan ke rumah sakit dan pusat kecelakaan darurat, ke dokter atlet sendiri, seorang fisioterapis olahraga atau seorang dokter olahraga atau spesialis harus dipertimbangkan ketika penyelidikan lebih lanjut, intervensi atau pengawasan diperlukan, misalnya ketika evaluasi radiologis segera diperlukan, atau pemain dengan cedera kepala membutuhkan pengamatan yang memenuhi syarat untuk beberapa jam.
Ongoing Management-Promotion of Healing
Tahap ini merupakan fase penyembuhan dari matriks dan sel proliferase menjadi fase proliferasi. Berlangsung selama antara 72 jam sampai 6 minggu (Oakes 1992). Pada fase ini melibatkan sel fagositosit (makrofag dan monosit) yang berfungsi untuk mensintesis penyembuhan lesi.

Adapun tujuan fisioterapi pada fase iini adalah:
  • Mengurangi pembengkakan
  • Memfasilitasi oksigenasi dan nutrisi dari siklus cedera
  • Mengembalikan pola gerak yang normal
  • Mencegah atau meminimalisir keparahan yang lebih jauh
  • Menghindari cedera berulang
Kemudian tindakan fisioterapi pada fase penyembuhan (healing) antara lain:
  • Massage
  • US dosis rendah
  • Arus listrik
  • Stimulasi listrik pada otot
  • Exercise
  • Instruksi kepada pasien mengenai pembatasan dari kegiatannya.
Sedangkan tindakan fisioterapi pada fase perbaikan (Repair) antara lain:
  • Intensitas dari latihan ditingkatkan.
  • Massage dan stretching (peregangan) dapat ditingkatkan.
Fase Rehabilitasi olah raga

Ada 3 prinsip fase rehabilitasi, yaitu :
  1. Pemberian stress (tegangan),
  2. Adaptasi spesifik untuk rangsangan tertentu,
  3. Adaptasi kemampuan dalam pemberian beban yang akan terus ditingkatkan sesuai kondisi recovery atlet
Maintenance fitness

Pemeliharaan fisiologi parameter memastikan bahwa atlit kembali kepelatihan dan kompetisi dalam kondisi fisik terbaiknya, sehingga memaksimalkan performan dan meminimalkan resiko cedera lebih lanjut.  Untuk mencapai hal tersebut seorang FT membutuhkan pengetahuan teori maupun practice dan beberapa pengalaman dalam penerapan prinsip prinsip tersebut, baik dalam rehabilitative maupun pembinaan atlit.

Sumber: http://physiosilvia.com/

Rabu, 20 April 2016

Jenis Fisioterapi

Terapi fisik yang tepat dapat meminimalkan efek samping penggunaan obat telan. Pasien bisa mendapatkannya di rumah sakit yang memiliki klinik fisioterapi, tentu dengan rujukan dokter yang mengetahui kondisi kesehatan pasien.

Ada begitu banyak bentuk pengobatan yang bisa diberikan pada pasien, termasuk anak. Salah satunya terapi fisik yang disebut fisioterapi. Perannya adalah memperbaiki fungsi gerak motorik akibat adanya gangguan pada otot dan rangka tubuh setelah patah tulang, atau pascaoperasi tulang.
Fisioterapi juga diberikan kepada penderita penyakit yang berhubungan dengan saraf, misalnya penyakit yang menyebabkan pola jalan salah dan otot lemah, penderita yang mengalami gangguan pada saraf tepi, radang selaput otak, sumbatan saluran di otak, dan lainnya. Menurut dr. Peni Kusumastuti, Sp.RM., dari RS Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, "Semua penyakit itu akan mengganggu pergerakan motorik anak."

Di klinik fisioterapi, terapis akan mengajarkan pasien bagaimana melakukan gerakan tubuh yang benar. Nah, gerakan-gerakan itulah yang nantinya harus diaplikasikan sendiri oleh pasien, seperti duduk, berdiri, jalan, lari, dan sebagainya.
"Fisioterapi merupakan pelayanan yang diberikan kepada pasien guna mengembangkan, memelihara, dan mengembalikan kemampuan dan fungsi gerak secara maksimal sepanjang kehidupannya," simpul Peni.

Mengenai frekuensi, tak ada patokan berapa kali seorang anak harus menjalani fisioterapi. "Tergantung kondisinya. Bila datang dalam kondisi parah atau kronis, tentu membutuhkan terapi lebih lama. Lain hal kalau orang tua sudah mengantisipasinya sejak dini."
Yang tak kalah penting, sebelum menganjurkan fisioterapi, dokter atau terapis harus mengetahui dulu riwayat kelahiran dan catatan klinisnya. Terapis sebaiknya bekerja sama dengan dokter yang terkait. Bila sudah diketahui latar belakang penyakitnya, barulah dipilihkan fisioterapi yang tepat.

MACAM-MACAM FISIOTERAPI

1. Exercise Therapy atau Terapi Latihan
Terapi ini dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi sekaligus memberi penguatan dan pemeliharaan gerak agar bisa kembali normal atau setidaknya mendekati kondisi normal. Kepada anak, akan diberikan latihan memegang maupun menggerakkan tangan dan kakinya. Setelah mampu, akan dilanjutkan dengan latihan mobilisasi, dimulai dengan berdiri, melangkah, berjalan, lari kecil, dan seterusnya.
Pada kasus patah kaki, contohnya, akan dilakukan fisioterapi secara bertahap, kapan si anak harus sedikit menapak sampai bisa menapak penuh.
Latihan-latihan yang diberikan bertujuan mempertahankan kekuatan otot-otot dan kemampuan fungsionalnya dengan mempertahankan sendi-sendinya agar tak menjadi kaku. Hal ini perlu dilakukan karena kaki patah yang dipasangi gips umumnya akan mengalami pengecilan otot, sehingga kekuatannya pun berkurang. Lewat terapi yang dilakukan sambil bermain akan kelihatan bagian mana yang mengalami penurunan fungsi.

2. Heating Therapy atau Terapi Pemanasan
Sesuai dengan namanya, terapi ini memanfaatkan kekuatan panas yang biasanya digunakan pada kelainan kulit, otot, maupun jaringan tubuh bagian dalam lainnya. Penggunaannya tentu saja disesuaikan dengan tingkat keluhan. Bila hanya sampai di bagian kulit, maka pemanasannya pun hanya diperuntukkan bagi kulit saja dengan menggunakan Infra Red Radiation (IRR) atau radiasi infra merah. Bila gangguan terjadi pada otot, digunakanlah micro diathermy atau diatermi mikro. Sementara, jika gangguan muncul di bagian terdalam seperti rangka tubuh, maka yang digunakan adalah short wave diathermy atau diatermi gelombang pendek. Intinya, jenis terapi yang dilakukan akan disesuaikan dengan hasil diagnosis.
Terapi pemanasan biasanya diberikan bersamaan dengan jenis terapi lain. Seperti pada terapi inhalasi untuk anak-anak dengan masalah lendir pada saluran napas; pada nyeri otot maupun sendi. Bila dikombinasikan dengan bentuk pengobatan lain tentu lebih menguntungkan karena dosis obat yang harus diminum anak jadi lebih kecil untuk meminimalisir efek negatifnya.

3. Electrical Stimulations Therapy atau Terapi Stimulasi Listrik
Terapi yang menggunakan aliran listrik bertenaga kecil ini cocok diterapkan pada anak yang menderita kelemahan otot akibat patah tulang ataupun kerusakan saraf otot. Cara penggunaannya, dengan menempelkan aliran listrik pada otot-otot untuk mengatasi rasa nyeri. Terapi ini bertujuan untuk mempertahankan massa otot dan secara tidak langsung merangsang regenerasi saraf.
Pada pasien anak yang menderita gangguan pernapasan, terapi ini pun bisa digunakan untuk pengobatan. Efeknya, sirkulasi darah di rongga dada dan saluran pernapasan menjadi lebih lancar, sehingga dapat membantu relaksasi serta membantu mengeluarkan lendir dari saluran pernapasan, sehingga akan mempercepat proses penyembuhan.

4. Cold Therapy atau Terapi Dingin
Terapi dingin biasanya diberikan bila cedera anak masih akut sehingga proses peradangan tidak menjadi kronis. Terapi ini umumnya hanya diperuntukkan bagi otot saja, biasanya akibat terjatuh dan mengalami memar. Nah, terapi dingin ini pun berguna mengurangi bengkak. Itulah kenapa, ketika anak terjatuh dan bagian tubuhnya ada yang benjol, orang tua sering mengompresnya dengan air dingin. Namun terapi dingin harus dengan pengawasan ketat karena kalau fase akutnya sudah lewat, tapi masih terus diberi terapi, justru dapat merusak jaringan.

5. Chest Physiotherapy atau Terapi Bagian Dada
Anak dengan keluhan batuk-pilek biasanya mendapat chest physiotherapy yang bermanfaat membersihkan saluran pernapasan dan memperbaiki pertukaran udara. Yang termasuk dalam fisioterapi ini di antaranya inhalasi/nebulizer, clapping, vibrasi dan postural drainage.
Inhalasi yaitu memasukkan obat-obatan ke dalam saluran pernapasan melalui penghirupan. Jadi, partikel obat dipecah terlebih dulu dalam sebuah alat yang disebut nebulizeer hingga menjadi molekul-molekul berbentuk uap. Uap inilah yang kemudian dihirup anak, hingga obat akan langsung masuk ke saluran pernapasan. Keuntungan cara ini, dosis obat jauh lebih kecil, hingga dapat mengurangi efek samping obat.
Obat-obat inhalasi yang umum diberikan adalah obat untuk melonggarkan saluran napas, pengencer dahak, dan NaCl sebagai pelembab saluran napas. Sedangkan lamanya setiap inhalasi cukup sekitar 10 menit. Tindakan lanjut untuk membantu pengeluaran lendirnya, antara lain clapping atau tepukan pada dada dan punggung. Bisa di sisi kanan, kiri, depan dada. Tepukan dilakukan secara kontinyu dan ritmik. Sertai pula dengan pengaturan posisi anak (postural drainage), semisal anak ditengkurapkan dengan posisi kepala lebih rendah dari badan, hingga lendir tersebut dapat mengalir ke cabang pernapasan utama sekaligus lebih mudah untuk dibatukkan. Ini akan menguntungkan karena biasanya anak tak bisa meludah, hingga lendir yang menyumbat saluran pernapasan sulit dikeluarkan.
Khusus pada bayi atau anak di bawah usia 2 tahun, bila perlu, lakukan tindakan suction atau penyedotan lendir dengan alat khusus lewat hidung atau mulut. Bisanya tindakan ini dilakukan pada bayi dimana refleks batuknya belum cukup kuat untuk mengeluarkan lendir.

6. Hydro Therapy atau Aquatik Therapy
Terapi dengan air berguna bagi anak-anak yang mengalami gangguan, terutama gangguan gerak akibat spastisitas, misal pada anak CP (Cerebral Palsy). Sedangkan pada anak yang terlambat berjalan, tentu saja sebelum diterapi mereka akan dievaluasi dulu baik dari usia, tingkat kemampuan, maupun tingkat kesulitan yang dialami. Untuk bisa berjalan, anak tentu saja harus melalui berbagai tahapan yang dimulai dengan tengkurap, duduk, merangkak sampai berdiri. Biasanya anak tidak akan langsung diajarkan berjalan bila tahap sebelumnya belum mampu ia lakukan.
Pada anak yang mengalami kesulitan bergerak karena spastisitas/kekakuan, ketika di air, umumnya dia akan lebih mudah bergerak. Dengan demikian diharapkan spastisitas anak akan berkurang mengingat adanya bantuan berupa dorongan air yang sifatnya bisa melenturkan gerak tubuh. Meskipun tidak semua anak dengan gangguan tersebut dapat diberikan hidro terapi air, tapi terapi ini bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif.

7. Orthopedhic dan Rheumathoid Arthritis
Sebetulnya fisioterapi ortopedik ini dilakukan untuk mengatasi gangguan tulang dan otot akibat patah tulang, post fracture (retak), artritis sendi, keseleo, atau terkilir. Umumnya ditujukan untuk kalangan dewasa karena kasusnya jarang sekali terjadi pada anak.
Pada bayi, terapi ortopedik ini akan dipakai jika ia mengalami proses pemendekan otot leher (lehernya jadi miring) akibat pembengkakan otot leher yang membuat ototnya tertarik ke satu arah. Fiosioterapi ini dilakukan dalam bentuk latihan-latihan gerakan, pijat, dan peregangan. Bisa juga dibarengi dengan ultrasound (gelombang suara berfrekuensi lebih tinggi dari yang dapat didengar manusia) dan pemanasan untuk melepaskan perlengketan/gumpalan di leher. Fisioterapi ini bisa diterapkan sejak bayi berusia 2 minggu.
Fisioterapi rheumathoid arthritis dilakukan pada anak dengan keluhan kaki bengkak atau mengalami gangguan sendi. Untuk mengurangi rasa nyeri, terapi dingin diberikan saat akut dan selanjutnya diberikan terapi panas dengan electrical stimulations therapy. Ini bisa dilakukan pada anak usia 4-5 tahunan, tergantung pada bagian mana terserangnya.

Irfan Hasuki.

Sumber: http://tabloidnova.com/

Visi dan MIsi Fisioterapi Indonesia

Dengan melihat kondisi Indonesia pada saat ini dan kearah mana dengan cara bagaimana Fisioterapis akan dapat menjadi Fisioterapis sejati di Millenium ke III, maka Fisioterapis Indonesia harus mempunyai pandangan ke depan tentang gambaran Fisioterapi (VISI) serta apa yang menjadi tugas pokok yang mesti dilakukan agar pandangan ke depan tersebut dapat dicapi dengan benar (MISI).

VISI : Fisioterapi Indonesia harus mampu memberikan pelayanan fisioterapi dengan kualitas global.
MISI : Membawa Fisioterapi Indonesia menjadi fisioterapi sejati sejajar fisioterapi global universal.

a. Fisioterapi Sejati
 
Dalam era globalisasi fisioterapi dunia akan mempunyai paradigma yang sama, apa yang disebut fisioterapi baik dipandang dalam bentuk pelayanannya, kompetensinya, kewenangannya, maupun persyaratan pendidikannya untuk menjadi fisioterapis akan menjadi sama dan standar pula. Oleh sebab itu fisioterapi sejati berdasarkan kedua hasil kongres WCPT (1995/1999) dapat digambarkan paling tidak sebagai berikut :
1) Profesi kesehatan yang menangani gangguan gerak dan fungsi manusia perorangan dan masyarakat.
2) Upaya yang dilakukan dapat berupa upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan.
3) Bersifat profesional dan mandiri, bekerja secara terbuka dan sejajar dengan tenaga kesehatan lainny, mempunyai otonomi dan kemerdekaan sendiri yang mempunyai tanggung gugat dan tanggung jawab.
4) Fisioterapi adalah proses pemecahan masalah sehingga dikenal alur dari pemeriksaan ? Diagnosa Fisioterapi ? Perencanan Terapi ? Pelaksanan terapi dan ? Reevaluasi

b. Tujuan Strategi

Fisioterapi sejati adalah fisioterapi yang benar-benar fisioterapi yang mempunyai arti, nilai serta paradigma yang sama dengan arti fisioterapi yang sebenarnya yang berlaku secara universal – global, merupakan keharusan menjadi plat-form fisioterapi Indonesia.
Oleh sebab itu peningkatan kemampuan profesionalisme fisioterapi dalam arti profesi yang mandiri merupakan kunci keberhasilan yang mempunyai nilai strategis dalam upaya pencapaian Visi dan Misi maka tujuan strategis dapat dirumuskan :

“ Meningkatkan profesionalisma fisioterapi Indonesia melalui peningkatan pendidikan Formal minimal 4 tahun pada tingkat sarjana dan pendidikan yang berkelanjutan sehingga mampu melaksanakan profesi fisioterapi dengan sebaik-baiknya agar dapat meningkatkan pelayanan di masyarakat”.

c. Analisis SWOT

1. Strength (Kekuatan)
a) Kemampuan untuk maju
Keinginan untuk maju sebagian besar Fisioterapis Indonesia merupakan kekuatan dalam mengembangkan Fisioterapi Indonesia dimasa yang akan datang.
b) Tuntutan pasar lokal-global
Tuntutan akan kualitas pelayanan fisioterapi di Indonesia yang merupakan pasar lokal, merupakan kekuatan yang mendorong baik langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan Fisioterapi Indonesia. Sehingga peningkatan pendidikan merupakan hal yang sangat dibutuhkan bagi Fisioterapis Indonesia. Tuntutan pasar globalpun juga sangat tinggi , hal ini dibuktikan banyak dicarinya Fisioterapi Asia yang ditawari pekerjaan di Amerika, Kanada dan Negara Eropa lainnya.

2. Weakness (Kelemahan)
Pada saat ini baru ada tiga pendidikan sarjana Fisioterapi yang ada di Indonesia satu diploma IV dan dua pendidikan S1, Selain itu juga kekurangan staf pengajar yang memenuhi syarat sehingga dapat memberikan pelajaran dengan benar dan baik.
Belum adanya standar kompetensi Fisioterapi yang diakui secara nasional sehingga masih beraneka ragam jenis kompetensi yang ada.

3. Opportunities (Kesempatan)
a) Reformasi merupakan segalanya, diakhir pemerintahan orde baru muncul fatwa konsorsum ilmu kesehatan yang menyatakan bahwa fisioterapi bukan profesi, apalagi mengakui sebagai profesi yang mandiri, tiba-tiba punah dan dikeluarkannya win-win solution yaitu dengan memberikan gelar sarjana sain terapan bagi lulusan D4 Fisioterapi, dan juga lulusannya dapat melanjutkan kejenjang pasca sarjana sehingga kesempatan ini harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
b) Masih ada upaya membesarkan fisioterapi dalam kandang rehabilitasi sehingga walaupun pendidikan sudah sarjana namun ada upaya tetap dalam kandang tersebut.

4. Treath (Ancaman)
a) Ada dua hal yang utama yang akan menjadi kendala bila Fisioterapi Indonesia tidak cepat mengembangkan pendidikan sarjana Fisioterapi, Fisioterapi akan dikembangkan profesi lain dan tidak sesuai dengan plat-form WCPT.
b) Untuk dapat melakukan proses fisioterapi diploma tiga saja tidak cukup.

Sumber: http://www.ilmufisioterapi.net/


Fisioterapi Untuk Anak Dengan Keterlambatan Perkembangan

Cerebral Palsy adalah kondisi neurologis yang terjadi permanen tapi tidak mempengaruhi kerusakan perkembangan saraf karena itu bersifat non progresif pada lesi satu atau banyak lokasi pada otak yang immatur (Campbell SK et al, 2001)
Cerebral Palsy adalah gangguan postur dan kontrol gerakan yang bersifat non progressif yang disebabkan oleh kerusakan atau kelumpuhan sistem saraf pusat (Nelson & Ellenberg, 1982)
Cerebral Palsy adalah suatu kelainan gerakan dan postur yang tidak progresif oleh karena suatu kerusakan atau gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh atau belum selesai pertumbuhannya. (Bax, dikutip oleh Soetjiningsih, 1998)
Cerebral Palsy adalah gangguan pada otak yang bersifat non progresif.gangguan ini dapat disebabkan oleh adanya lesi atau gangguan perkembangan pada otak ( Shepered,1995 )
Cerebral Palsy adalah akibat dari lesi atau gangguan perkembangan otak bersifat non progresif dan terjadi akibat bayi lahir terlalu dini ( prematur). Defisit motorik dapat ditemukan pada pola abnormal dari postur dan gerakan ( Bobath, 1996)
Berdasarkan Penjelasan di atas Cerebral Palsy Spastic Quadriplegia adalah gangguan postur dan kontrol gerakan yang bersifat non progresif yang disebabkan oleh karena lesi atau perkembangan abnormal pada otak yang sedang tumbuh atau belum selesai pertumbuhannya yang ditandai dengan meningkatnya reflek tendon, stertch reflek yang berlebihan, hiperkontraktilitas otot pada keempat ekstremitas dan klonus yang terjadi pada anggota gerak bawah.
KLASIFIKASI 

1. Berdasarkan area yang mengalami impairment (Scherzer & Tscharnuter, 1990)
  • Monoplegia : kelemahan pada satu ekstremitas 
  • Hemiplegia : kelemahan pada satu sisi tubuh, ekstremitas atas dan bawah tetapi ekstremitas atas lebih berat 
  • Triplegia : kelemahan pada kedua ekstremitas bawah dan satu sisi ekstremitas atas 
  • Diplegia : kelemahan pada keempat ekstremitas tetapi ekstremitas bawah lebih berat 
  • Kuadriplegia : kelemahan pada keempat ekstremitas.
2. Berdasarkan gejala klinis dan fisiologis gangguan gerak ( Sanger et al, 2003; Molnar GE, 1992; Nelson 1989)
  • Spastik 
      Ditandai dengan adanya kekakuan pada sebagian atau seluruh otot. Letak kelainan Cerebral Palsy jenis ini ada di tractus pyramidalis (motor cortex). Anak cerebral palsy jenis spastik dibedakan menjadi empat tipe, yaitu spastik hemiplegia, spastik paraplegia, spastik diplegia, dan spastik quadriplegia. 
  • Diskinesia 
      Ditandai dengan tidak adanya kontrol dan koordinasi gerak. Yang termasuk dalam kelompok diskenisia adalah athetoid, rigid, hipotonia, dan tremor. 
1) Athetoid 
Letak kelainannya pada basal ganglion. Cerebral Palsy jenis ini tidak terdapat kekakuan pada tubuhnya, tetapi terdapat gerakan-gerakan yang tidak terkontrol (involuntary movement) yang terjadi sewaktu-waktu. Gerakan ini tidak dapat dicegah, sehingga dapat mengganggu aktivitas. Gerakan otomatis tersebut terjadi pada tangan, kaki, mata, tangan, bibir, dan kepala. 
2) Rigid 
Cerebral palsy jenis rigid ini terjadi akibat adanya pendarahan di dalam otak. Gejalanya yaitu adanya kekakuan pada seluruh anggota gerak, tangan dan kaki sehingga sulit dibengkokkan. Leher dan punggung mengalami hiperektensi. 
3) Hipotonia 
Cerebral palsy jenis ini memiliki tonus otot dan tonus postural yang rendah. 
4) Tremor 
Letak kelainannya pada substantia nigra. Gejala yang tampak yaitu adanya getaran-getaran kecil (ritmis) yang terus menerus pada mata, tangan, atau pada kepala. Getaran yang terus menerus pada anggota tubuh tersebut dapat mengganggu fungsinya, seperti getaran pada mata menyebabkan anak tidak dapat melihat dengan jelas. Begitu juga getaran pada kepala dan tangan dapat mengganggu anak berkonsentrasi dan menulis atau pada aktvitas lain yang menggunakan kepala dan tangan.
 Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Cerebral Palsy
  • Ataksia  
    Letak kelainannya pada otak kecil (cerebellum). Penderita mengalami gangguan keseimbangan. Otot-ototnya tidak kaku, tapi terkadang penderita tidak dapat berdiri dan berjalan karena adanya gangguan keseimbangan tersebut. Andaikan berjalan, langkahnya seperti orang mabuk, kadang terlalu lebar atau terlalu pendek. Hal itu menyebabkan anak tidak dapat berjalan tegak dan jalannya gontai. Koordinasi mata dan tangan tidak berfungsi, sehingga anak mengalami kesulitan dalam menjangkau sesuatu ataupun akan akan mengalami kesulitan ketika makan. 
  • Campuran
    Artinya pada anak cerebral palsy terdapat dua atau lebih kelainan. Misalnya spastik dan athetosis, atau spastik dan rigid, atau spastik dan ataksia. Kecacatan tersebut tergantung pada kerusakan yang terjadi di otak. Letak kerusakan jenis ini di daerah pyramidal dan extrapyramidal. Apabila kerusakan terjadi pada pyramidal, kelainannya berbentuk spastik. Apabila terjadi di extrapyramidal kelainannya berbentuk athetosis, rigid, dan hipotonia.
ETIOLOGI
Penyebab CP secara umum dapat terjadi pada tahap prenatal, perinatal dan post natal. 
1. Prenatal 
  Potensi yang mungkin terjadi pada tahap prenatal adalah infeksi pada masa kehamilan. Infeksi merupakan salah satu hal yang dapat menyebabkan kelainan pada janin, misalnya infeksi oleh toksoplasma, rubela dan penyakit inklusi sitomegalik. Selain infeksi, anoksia dalam kandungan (anemia, kerusakan pada plasenta), trauma pada abdominal, radiasi sinar-X dan keracunan pada masa kehamilan juga berpotensi menimbulkan Cerebral Palsy. 
2. Perinatal 
    Pada masa bayi dilahirkan ada beberapa resiko yang dapat menimbulkan CP, antara lain: 
a. Brain injury 
Brain injury atau cidera pada kepala bayi dapat mengakibatkan: 
1) Anoksia/hipoksia 
   Anoksia merupakan keadaan saat bayi tidak mendapatkan oksigen, yang dapat terjadi pada saat kelahiran bayi abnormal, disproporsi sefalo-pelvik, partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan instrumen tertentu dan lahir dengan bedah caesar. 
2) Perdarahan otak 


Penatalksanaan Fisioterapi Pada Cerebral Palsy
    Perdarahan dapat terjadi karena trauma pada saat kelahiran misalnya pada proses kelahiran dengan mengunakan bantuan instrumen tertentu. Perdarahan dapat terjadi di ruang sub arachnoid. Perdarahan di ruang subdural dapat menekan korteks serebri sehingga timbul kelumpuhan spastik.
Penatalksanaan Fisioterapi Pada Cerebral Palsy
b. Ikterus 
Ikterus pada masa neonatal dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang permanen akibat masuknya bilirubin ke ganglia basalis, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah. 
c. Meningitis purulenta 
Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa Cerebral Palsy. 
d. Prematuritas 
Prematuritas dapat diartikan sebagai kelahiran kurang bulan, lahir dengan berat badan tidak sesuai dengan usia kelahiran atau terjadi dua hal tesebut. Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan otak lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan, karena pembuluh darah, enzim, faktor pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna. 

3. Post natal
  Pada masa postnatal bayi beresiko mendapatkan paparan dari luar yang dapat mempengaruhi perkembangan otak, yang mungkin dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada otak. Kerusakan yang terjadi pada jaringan otak setelah proses kelahiran yang mengganggu perkembangan dapat menyebabkan Cerebral Palsy, misalnya pada trauma kapitis, meningitis, ensepalitis dan luka parut pada otak pasca bedah dan bayi dengan berat badan lahir rendah.
PATOLOGI CEREBRAL PALSY
Pada Cerebral Palsy terjadi kerusakan pada pusat motorik dan menyebabkan terganggunya fungsi gerak yang normal. Pada kerusakan korteks serebri terjadi kontraksi otot yang terus menerus dimana disebabkan oleh karena tidak terdapatnya inhibisi langsung pada lengkung refleks. Sedangkan kerusakan pada level midbrain dan batang otak akan mengakibatkan gangguan fungsi refleks untuk mempertahankan postur. Mid brain ekstra piramidal dan pusat lokomotor merupakan pusat control motor primitif. Pusat ini membuat seseorang menggunakan pola primitif reflek untuk melakukan ambulasi dimana pada saat tidak terdapatnya seleksi kontrol motorik. Bila terdapat cedera berat pada sistem ekstra piramidal dapat menyebabkan gangguan pada semua gerak atau hypotoni, termasuk kemampuan bicara. Namun bila hanya cedera ringan maka gerakan gross motor dapat dilakukan tetapi tidak terkoodinasi dengan baik dan gerakan motorik halus sering kali tidak dapat dilakukan. 
Walaupun pada Cerebral Palsy gangguan yang terjadi mengenai sistem motorik tetapi pada kenyataannya tidak dapat dipisahkan antara fungsi motorik dan sensorik. Sehingga pengolahan sistem sensori pada Cerebral Palsy mempunyai 2 jenis kekurangan, yaitu : 
1. Primer : Gangguan proses sensori yang terjadi berhubungan dengan gangguan gerak (pola yang abnormal) 
2. Sekunder : Gangguan proses sensori yang diakibatkan oleh keterbatasan gerak. 
Gangguan proses sensorik primer terjadi di serebelum yang mengakibatkan terjadinya ataksia. Pada keterbatasan gerak akibat fungsi motor control akan berdampak juga pada proses sensorik.

GEJALA KLINIS

Menurut Bax (dikutip dari Soetjiningsih, 1997) memberikan kriteria gejala klinis sebagai berikut :
  1. Masa neonatal dengan ciri depresi/asimetri dari refleks primitif (refleks moro, rooting, sucking, tonic neck, palmar, stepping). 
  2. Masa umur lebih dari 1 tahun dengan keterlambatan perkembangan motorik kasar seperti berguling, duduk atau jalan. 
  3. Terdapat paralisis yang dapat berbentuk hemiplegia, kuadriplegia, diplegia, monoplegia dan triplegia. Kelumpuhan ini mungkin bersifat flaksid, spastik atau campuran. 
  4. Terdapat spastisitas , terdapat gerakan-gerakan involunter seperti atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran. 
  5. Terdapat ataksia, gangguan koordinasi ini timbul karena kerusakan serebelum. Penderita biasanya memperlihatkan tonus yang menurun (hipotoni), dan menunjukkan perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat, dan semua pergerakan serba canggung. 
  6. Menetapnya refleks primitif dan tidak timbulnya refleks-refleks yang lebih tinggi (refleks landau atau parasut). 
  7. Mungkin didapat juga gangguan penglihatan (misalnya: hemianopsia, strabismus, atau kelainan refraksi), gangguan bicara, gangguan sensibilitas. 

Gejala klinis atau ciri khas lain yang dapat ditemukan pada kasus Cerebral Plasy Spastic Quadriplegia, yaitu :
  1. Pada kasus ini Assymetrical Tonic Neck Reflex dan Moro Reflex yang harusnya sudah hilang pada usia 6 bulan, masih ada. 
  2. Pada pemeriksaan dengan posisi anak telentang, maka akan ditemukan gerakan menggunting pada tungkai karena posisi hip yang terlalu adduksi dan endorotasi. 
  3. Pada pemeriksaan dengan posisi anak duduk, maka akan ditemukan bahwa anak duduk di sacrum dengan tungkai adduksi, endorotasi, plantar fleksi dan posisi tungkai asimetri serta menggunting. 
  4. Pada kebanyakan kasus Cerebral Plasy Spastic Quadriplegia, anak berguling dan keduduk dengan flexi patron dan tanpa rotasi trunk.
PROGNOSIS
Prognosis pasien Cerebral Palsy Spastic Quadriplegia dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
1. Berat ringannya kerusakan yang dialami pasien. 
    Menurut tingkatannya Cerebral Palsy Spastic Quadriplegia secara umum diklasifikasikan dalam tiga tingkat yaitu
 a. Mild
    Pasien dengan Mild Quadriplegia dapat berjalan tanpa menggunakan alat bantu seperti bilateral crutches atau walker, dan dapat bersosialisasi dengan baik dengan anak-anak normal seusianya pasien.
b. Moderate 
   Pasien dengan Moderate Quadriplegia mampu untuk berjalan saat melakukan aktifitas sehari-hari tetapi terkadang masih membutuhkan alat bantu seperti bilateral crutches atau walker. Namun demikian untuk perjalanan jauh atau ektifitas berjalan dalam waktu yang relatif lama dan jarak tempuh yang relatif jauh, pasien masih memerkulan bantuan kursi roda, seperti pada saat berjalan-jalan ke pusat belanja, taman hiburan atau kebun binatang. 
c. Severe. 
   Sedangkan pasien dengan Severe Quadriplegia sangat tergantung pada alat bantu atau bantuan dari orang lain untuk berjalan meskipun hanya untuk mencapai jarak yang dekat, misalnya untuk berpindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain dalam satu rumah. Pasien sangat tergantung pada kursi roda atau orang lain untuk melakukan aktifitas.
2. Pemberian terapi pada pasien Cerebral Palsy Spastic Quadriplegia. 
    Pemberian terapi dengan dosis yang tepat dan adekuat juga berpengaruh terhadap prognosis pasien. Semakin tepat dan adekuat terapi yang diberikan semakin baik prognosisnya.
3. Kondisi tubuh pasien. 
  Dengan kondisi tubuh yang baik akan mempermudah pasien untuk mengembangkan kemampuannya pada saat latihan sehingga pasien dapat melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri.
4. Lingkungan tempat pasien tinggal dan bersosialisasi. 
    Peran lingkungan terutama keluarga sangat mempengaruhi perkembangan pasien, dukungan mental yang diberikan keluarga kepada pasien sangat dibutuhkan pasien tidak hanya pada saat menjalani terapi sehingga pasien bersemangat setiap kali menjalani sesi latihan tetapi juga untuk menumbuhkan rasa percaya diri pasien untuk bersosialisasi dengan dunia luar.